MASYARAKAT MAMASA PRA-KEKRISTENAN TELAH MENGENAL ALLAH YANG BENAR

Suatu Refleksi Teologis tentang Kepercayaan Tradisional Masyarakat Mamasa kepada Dewata dalam Hubungannya dengan Kehidupan Bergereja Masa Kini

Penulis

  • Demianus STT Mamasa

Kata Kunci:

Kontekstual, Kontekstualisasi, Dewata, Allah yang benar

Abstrak

Kepercayaan kepada Yang Ilahi sangat erat
kaitannya dengan sistem kepercayaan dalam
suatu komunitas, sebab di dalam sistem
kepercayaan yang sarat dengan ritual, simbol
dan gagasan, atau ide tentang Yang Ilahi,
diungkapkan. Dengan demikian mengungkapkan
kepercayaan kepada Yang Ilahi, yang diyakini
sebagai pencipta langit dan bumi, manusia, alam
semesta dan isinya, dapat ditemukan di dalam
system kepercayaan tersebut. Demikian juga
halnya dengan masyarakat Mamasa sebelum
masuknya agama Kristen, mengungkapkan
kepercayaannya kepada Yang Ilahi dengan nama
Dewata, yang diyakini sebagai pencipta,
pemelihara dan pemberi berkat bagi seluruh
umat manusia dan alam semesta dan isinya,
dituangkan dalam sebuah system kepercayaan
leluhur yang disebut sebagai aluk tomatua. Di
dalam sistem kepercayaan leluhur aluk tomatua
itu tertata secara sistematis melalui ritual-ritual
yang bersangkut-paut dengan siklus kehidupan
manusia di bumi, yang disebut dengan pemali
appa’ randanna atau empat unsur aturan hidup
manusia.
Tulisan ini hendak memberi refleksi
teologis tentang bagaimana sistem kepercayaan
dalam aluk tomatua itu, khususnya dalam
menemukan gagasan-gagasan atau ide-ide
masyarakat Mamasa dalam kepercayaannya
kepada Dewata, sebab dalam kenyataannya
konsep tentang Yang Ilahi dengan nama Dewata
itu masih tetap ada dalam kehidupan
masyarakat Mamasa dewasa ini, khususnya
dalam kehidupan umat Kristen (gereja). Tulisan
ini kiranya dapat bermanfaat bagi pengembangan
teologi yang kontekstual di Gereja Toraja Mamasa, terutama membantu jemaat untuk menghindari bahaya
sinkretisme dan relativisme, dari penggunaan konsep kepercayaan kepada
Dewata itu dalam kehidupan bergereja di Mamasa. Dalam hal ini
diperlukan sikap yang kritis dan selektif dalam menilai konsep
kepercayaan itu, di bawah terang kebenaran Injil, sebagai satu-satunya
tolok ukur kebenaran. Dengan demikian berdasarkan tolok ukur itulah,
tulisan ini diharapkan dapat memberi jawaban pada pertanyaan : “Apakah
kepercayaan dan pengakuan kepada Tuhan Allah dengan nama atau gelar
Dewata, dapat dipertanggungjawabkan secara teologis?”

##submission.downloads##

Diterbitkan

2021-09-24