Makna Mantunu Tedong dalam Upacara Kematian di Kalangan Masyarakat Mamasa

Penulis

  • Ronald Arulangi Sekolah Tinggi Teologi Mamasa
  • Barbalina Bulawan Sekolah Tinggi Teologi Mamasa

Kata Kunci:

Mantunu tedong, Tradisi, Rambu Solo'

Abstrak

Mantunu Tedong dalam masyarakat Mamasa merupakan warisan budaya yang terus bertahan hingga saat ini, tradisi ini dilakukan dengan cara mengorbankan atau memotong hewan pada upacara kematian (rambu solo’). Selain sebagai sebuah tradisi, keberadaan warisan budaya ini juga mempunyai tujuan penting yaitu untuk mempererat relasi atau hubungan di dalam keluarga besar maupun masyarakat secara luas. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantunu tedong merupakan bentuk penghormatan, kasih sayang, ucapan terima kasih terhadap keluarga atau orang terkasih yang telah mendahului kita (meninggal dunia). Adapun jumlah hewan yang dikurbankan dalam upacara tersebut, tergantung tingkat kemampuan keluarga. Fungsi dalam mantunu tedong  pada masa lalu ialah dipercaya sebagai bekal kubur atau “kendaran” arwah  menuju alam baka yang disebut Puya (Tana Toraja) atau Pullondong (Mamasa) dalam kepercayaan Aluk Toyolo. Ketika kekristenan datang, pelaksanaan ritual ini di kalangan Kristen tidak lagi menekankan pada hewan yang dikurbankan. Jika kerbau dipotong, ada upaya memaknainya sebagai sebuah kurban syukur dan persembahan kepada Tuhan atas keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus. Hewan yang dikurbankan dikonsumsi bersama hadirin dan keluarga atau kerabat yang turut hadir membagi duka, dan mungkin juga sebagai tanda persekutuan mereka dengan orang yang telah meninggal tersebut.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2022-09-29